Selamat Datang Di Pondok Tnur
  • Catatan Admin

    “Assalamu'alaikum wr.wb. Awal januari 2011 pertama kalinya blog pondok tnur ini dibuatkan oleh suamiku untuk mengisi hari-hariku dengan berbagai macam informasi dan cerita. Berjam-jam bahkan terkadang ku habiskan malam untuk mempercantik blog ini...

  • Kisah Seorang Anak Yang Di Aborsi Di Dalam Rahim Ibu

    Bulan 1: Ma, panjangku itu cuma 2 cm, tapi aku udah ada dibadan mama... aku sayang mama, bunyi detak jantung mama itu jadi musik terindah yang menemaniku di sini. Bulan 2: Ma, aku udah bisa ngisep jari imutku lho, di sini hangat ma, nanti kalau aku...

  • Kisah Mengharukan:Suamiku Maafkan Aku

    Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami...

  • Kisah Seorang Suami Yg menyesal Telah Meninggalkan Istrinya

    Aq mengenalnya saat dalam satu organisasi pemuda Islam, Dia sangat aktif, smart, serba bisa, dan sholehah. Aq sangat tertantang ketika jadi satu dalam forum rapat denganya pendapatnya selalu ku bantah meski ku tau pendapatnya itu benar....

  • Suamiku Aku Cemburu Padanya

    Bismillahirr Rahmanirr Rahim ... Ini adalah cerita dari salah satu Saudaraku yang kucintai karena Allah. Beliau bercerita sedikit kisah hidupnya yang coba untuk kubagi kepada saudara-saudari semoga bisa memberi hikmah. Atau mungkin ada di antara saudara-saudari yang juga mengalami kisah yang sama dengan saudaraku ini??? ...

  • Hadiah Terakhir Dari Sang Ayah (Kisah Sedih mengharukan)

    Di sebuah perumahan terkenal di jakarta tinggalah seorang gadis bersama sang ayah, sang ibu telah lama mendahuluinya pergi sejak ia masih kecil. . Seorang gadis yg akan di wisuda, sebentar lagi dia akan menjadi seorang sarjana...

  • Anakmu Ingin Bermain Denganmu

    Menjelang malam ada seorang anak kecil sedang duduk diteras sambil melihat-lihat pintu gerbang. Anak kecil itu menunggu kedatangan Mamah dan Papah-nya untuk bisa main denganya. Anak itu tiba-tiba tersenyum dan bangkit dari duduknya setelah melihat Mamahnya membuka pintu gerbang lalu berkata pada Mamahnya...

  • Suamiku Kini Telah Tiada dan Penyesalanku Yang Terus Ada

    Kisah nyata yang akan membuat setiap orang terharu setelah membacanya ini saya dapatkan dari sebuah notes di facebook bernama @Rina Amalina, semoga dapat menjadi pelajaran bagi kita semua terutama bagi kaum hawa yg sudah berkeluarga... Ini adalah kisah nyata di kehidupanku...

sperky, prstene
Posted by PONDOK TNUR - - 0 komentar

Setiap wanita adalah cantik. Dia terlahir indah dan telah
menjadi fitrahnya untuk mencintai keindahan. Wanitapun juga
suka melakukan banyak hal agar pesona kecantikannya
semakin terpancar. Namun tahukah kita jika betapapun
tingginya nilai kecantikan itu, tetap akan terasa hambar jika
sebuah kecerdasan tidak diusahakan untuk dimilikinya?
Ketika seorang wanita tidak cerdas mendidik hatinya, maka
siapapun pasti akan tahu bahwa tiada lagi kecantikan akhlak
atasnya.
Ketika wanita tidak cerdas dalam berinteraksi dengan
sesamanya, maka kecantikan tentang jati dirinya seakan
diragukan oleh makhluk disekelilingnya.
Ketika kecerdasan itu tidak dia hadirkan dalam caranya
berdialog atau berbicara, maka kecantikan juga dengan
mudah lenyap dari dirinya, yang kemudian berganti dengan
julukan penggosip dan atau perempuan kasar.
Ketika kecerdasan juga tidak ada dalam caranya berperilaku
dalam kesehariannya, maka tidak akan ada pula kecantikan
yang terpancar atas predikatnya sebagai seorang wanita.
Sungguh, Kecerdasan tak hanya melulu dilihat dari kuatnya
daya ingatnya atas sesuatu, atau hanya tercetak dalam
lembaran catatan akademis, tapi lebih pada kesadaran
wanita itu sendiri untuk menampilkan dirinya sebagai wanita
dengan segenap nalurinya yang memang indah dan pantas
untuk dihormati.
Begitupun halnya dengan sebuah kecantikan. Kecantikan
yang utama tidaklah hanya terbatas pada bagaimana caranya
seorang wanita memoles muka, menuturkan bahasa dan atau
menempatkan diri dalam pergaulannya. Namun kecantikan
yang sesungguhnya terletak dalam cerdasnya dia menjaga
diri dan kehormatannya. Yaitu, ketika seorang wanita cerdas
dalam menata dirinya sesuai dengan aturan Allah subhanahu
wata'ala.
Jika hal tersebut dipenuhinya, maka kecantikan yang ada
padanya tidak akan menjadi santapan liar laki- laki yang
hanya melihat wanita tersebut dengan nafsu. Atau dengan
kata lain wanita tersebut tidak akan hanya dibutuhkan oleh
lelaki sebagai obyek yang hanya dilihat, dipikat, disikat, lalu
ditinggal minggat, tetapi benar benar punya kelas dan
partner handal untuk diajak berdebat.
Jadi, kecantikan dan kecerdasan bukanlah dua sisi yang
harus dipilih namun harus digabungkan. Hal ini karena jika
dua pesona itu bergabung dalam diri wanita, tentu saja hal
itu akan menjadikan makhluk indah bernama wanita, terlihat
semakin indah.
Memang, di dunia ini tidak ada kata sempurna, pun demikian
halnya dengan kepemilikan sebuah kecerdasan dan
keindahan dalam diri wanita. Namun percayalah, bahwa
wanita yang mengusahakan agar kecerdasan dan kecantikan
itu selalu ada dalam dirinya, tentu saja akan memiliki nilai
lebih, dan akan nyaris mendekati sempurna.
Selanjutnya, wanita seperti ini tentunya juga akan lebih
mudah dipilih oleh laki- laki yang sholeh dari pada mereka
yang hanya terlihat sibuk untuk tampil indah dengan
rangkaian perhiasan bling bling di tubuhnya saja.
(Syahidah/voa-islam.com)
(Image:google)
[ Read More ]

Posted by PONDOK TNUR - - 0 komentar

MARKUM yakin dan percaya, bahwa di dalam bulan
Ramadhan ini ada sebuah malam yang lebih baik
daripada malam seribu bulan, yakni malam lailatul qadar.
Seperti yang pernah ia dengar dari Ustad Sahroni,
seorang ustad yang menjadi penceramah di masjidnya.
Markum penasaran, kapan kira-kira malam lailatul qadar
itu datang. Untuk itulah ia ingin menanyakan lebih detil
lagi pada Ustad Sahroni. Sore hari, sebelum buka puasa,
Markum mendatangi masjid untuk bertemu beliau.
“Tad, kira-kira kapan malam lailatul qadar itu datang.
Apakah malam ini, atau besok? Tolonglah ustad kasih
tahu ke saya. Saya ingin sekali bertemu dengannya….”
Ustad Sahroni tersenyum mendengar pertanyaan Markum,
“Kum, nggak ada yang tahu kapan datangnya malam
lailatul qadar . Saya sendiri juga nggak tahu….”
“Lho , ustad kan pernah bilang, kalo malam lailatul qadar
itu terjadi pada sepuluh malam terakhir di bulan
Ramadhan. Tolonglah ustad, kasih tahu saya. Atau
jangan-jangan Pak Ustad merahasiakannya, supaya Ustad
sendiri yang tahu dan bertemu dengannya…?”
Ustad Sahroni menghela napas panjang. Lalu geleng-
geleng kepala. Itu artinya, Ustad Sahroni benar-benar
tidak tahu. Atau mungkin menandakan beliau bingung
menghadapi salah satu warganya yang satu ini.
“Pak Ustad nggak usah pelit begitu, dong… Pak Ustad
pasti tahu. Kalau memang nggak mau menyebut kapan
waktunya, bolehlah ciri-cirinya Pak. Saya kan ingin sekali
bertemu pada malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Tolonglah Pak Ustad….”
“Haduh, Kum… kamu kok, maksa? Begini saja. Dalam
salah satu riwayat, saya pernah membaca. Malam lailatul
qadar itu terjadi di malam-malam ganjil pada sepuluh
malam terakhir….”
Markum mengangguk-angguk mengerti, “Jadi, Tad, kalau
nggak malam ke-21, berarti malam ke-23? Atau malam
ke-25, ke-27, atau… ke-29? Wah, banyak betul
pilihannya Pak Ustad…?!”
Ustad Sahroni garuk-garuk kepala.
“Ya sudah kalau begitu. Biar nanti saya cari sendiri.
Terima kasih, Pak Ustad. Assalamu’alaikum!”
“Wa’alaikum salaam…”
Markum meninggalkan masjid. Ustad Sahroni
memandangi kepergian Markum dengan tatapan heran.
Namun di dalam hatinya, beliau senang betul melihat
kemauan Markum beribadah di bulan Ramadhan ini,
apalagi sampai ingin menemukan malam lailatul qadar
segala. Sepengetahuan Ustad Sahroni, selama ini
Markum bukan cuma jarang ke masjid. Tetapi dia
pemuda pengangguran yang malas dan kerap ketahuan
mencuri sandal penduduk.
***
Pada Ramadhan malam ke dua puluh satu, Markum
sudah bersiap-siap menghadapi malam lailatul qadar .
Siangnya sengaja Markum tidur seharian. Supaya
malamnya bisa begadang untuk bertemu pada malam
yang lebih baik daripada malam seribu bulan. Kalau
memang benar, dia berencana akan berdoa kepada
Tuhan, supaya diberikan limpahan rezeki dan dikaruniai
jodoh.
Markum pernah mendengar kabar burung tentang Haji
Duloh, bahwa dulunya ia pernah berdoa di malam lailatul
qadar . Waktu itu beliau berdoa minta diberikan keluasan
rejeki. Dan semua itu terwujud. Sekarang ini Haji Duloh
punya lima buah toko pakaian. Dua kali naik haji. Punya
istri tiga. Mobil enam. Rumah empat. Kontrakkan
berpuluh pintu. Dan tanah yang sungguh teramat luas.
Markum yakin kalau semua itu berkat malam lailatul
qadar . Untuk itulah ia ngotot pada ramadhan kali ini bisa
bertemu dengan malam yang dimaksud.
Selepas mengikuti salat tarawih berjamaah, Markum ke
warung Ucok memesan obat nyamuk oles. Markum tak
mau diganggu nyamuk-nyamuk nakal itu. Menurut Pak
Anwari, marbot masjid yang tidur di masjid, nyamuk-
nyamuk nakal suka mengganggunya. Markum tak mau
bertemu malam lailatul qadar bersama-sama dengan
nyamuk. Bisa-bisa konsentrasinya terganggu lantaran
gangguan nyamuk-nyamuk itu.
Di masjid sudah terdapat beberapa jamaah lainnya yang
tengah mengaji atau beberapa orang yang tidur-tiduran
melepas lelah. Markum sengaja berdiam di salah satu
sudut, agar jamaah lainnya tidak melihat atau merasa
pangling padanya. Sebab baru malam ini ia bermalam di
masjid.
Sambil menunggu penghujung malam, Markum bersandar
di dinding masjid yang terasa sejuk. Obat nyamuk cair
sudah ia oleskan ke sekujur tubuh. Terdengar beberapa
orang membaca ayat suci Alquran sedemikian merdu. Hal
itu membuat Markum terkantuk-kantuk. Dan Markum yang
dasarnya doyan tidur pun secara tak sengaja mengorok.
Ia baru bangun saat Pak Anwari membangunkan warga
sahur dengan pengeras suara. Markum tersentak dan
kebingungan. Ia merasa gagal bertemu dengan malam
lailatul qadar !
“Kum, kok sedih begitu…??” tanya Pak Anwari, paginya
saat berpapasan di sebuah jalan dekat masjid.
“Saya gagal bertemu malam lailatul qadar …,” lirih
Markum.
“Lha , emangnya semalam itu malam lailatul qadar ,
Kum?”
“Ya, benar. Kan semalam itu malam ke-21. Malam
ganjil!”
“Ah, belum tentu, Kum! Soalnya pas subuh tadi saya lihat
langit, nggak keliatan terang….”
Markum kebingungan mendengar kata-kata Pak Anwari.
“Terang gimana, Pak? Subuh kan emang belum terang?
Soalnya matahari masih belum kelihatan….”
“Kalau memang benar malam lailatul qadar , akan keliatan
cahaya terang setelah fajar. Itu salah satu ciri malam
lailatul qadar lainnya, Kum….”
Markum mengangguk-angguk mengerti, “Berarti malam
lailatul qadar belum datang…,” batin Markum.
Pada malam ke-23, Markum kembali bermalam di masjid.
Tujuannya masih sama, ingin menyambut malam lailatul
qadar . Markum tak ingin ketiduran lagi. Markum memesan
kopi supaya tidak mengantuk. Sepanjang malam itu
Markum berdoa, yakin kalau malam itu malam lebih baik
dari seribu bulan.
Tapi paginya, saat melihat ke arah terbitnya matahari,
Markum tak menemukan cahaya itu. Boleh jadi, langit
sedang mendung. Yang datang justru gerimis. Markum
hanya bisa menghela napas berat. Markum yakin, kalau
malam itu bukanlah malam lailatul qadar !
Markum tidak putus asa. Di malam ganjil yang lain, yakni
malam ke dua puluh tujuh, Markum kembali bermalam di
masjid. Seperti malam sebelumnya, yakni pada malam
ganjil sepuluh malam terakhir yang lalu, Markum pun
berusaha sekuat tenaga untuk tidak terlelap. Sepanjang
malam itu Markum berdoa. Markum tidak sendirian. Di
masjid terdapat beberapa orang melakukan hal yang
sama. Tapi Markum tidak tahu, apakah mereka juga
tengah berharap bertemu dengan malam lailatul qadar
seperti dirinya. Markum ingin bertanya, tapi gengsi.
Takutnya ia dicap bermalam di masjid hanya karena
berharap bertemu dengan malam lailatul qadar , padahal
memang begitu adanya.
Di tengah malam, saat tengah khusuk berdoa, tiba-tiba
lampu mati. Masjid menjadi gelap. Semilir angin bertiup
lebih kencang dari biasanya. Pepohonan di luar masjid
bergoyang-goyang diterpa angin malam. Sesekali
terdengar suara halilintar. Inikah malam lailatul qadar
itu…?
Markum belum yakin. Lampu masjid gelap ternyata
karena memang mati lampu. Belakangan ini sudah biasa
lampu PLN byar pet , karena alasan tertentu. Angin bertiup
agak kencang dan hujan turun karena cuaca memang
sering tak bisa diterka. Halilintar sudah biasa terdengar
kalau keadaan hendak hujan. Jadi, apa yang membuatnya
berpikir bila malam ini malam lailatul qadar ?
Demi menguji kebenaran apakah malam lailatul qadar
atau bukan, Markum pun berdoa. Kalau doanya
dikabulkan, berarti malam ini malam lailatul qadar .
Markum pun berdoa semoga mendapatkan rizki. Kalau
jadi kenyataan, berarti malam ini tak salah lagi, malam
yang lebih baik dari seribu bulan. Malam dimana orang
akan mendapat pahala berlipat ganda. Dan semua doa-
doa dikabulkan Tuhan.
Semalaman suntuk Markum berdoa. Paginya, setelah
makan sahur, Markum melongok ke arah terbitnya
matahari. Ia melihat cahaya yang begitu terangnya meski
matahari belum kelihatan. Barangkali memang benar
bahwa tadi malam adalah malam lailatul qadar ?
Kalau begitu, Markum tinggal menunggu doa-doanya
dikabulkan. Semalam ia minta dua permintaan, yakni
memohon diberikan keluasan rizki dan minta cepat-cepat
mendapat jodoh. Markum tinggal menunggu doanya
dikabulkan Tuhan. Tapi, berapa lama ia harus menunggu?
Apakah sehari, dua hari… tiga hari? Seminggu, dua
minggu… atau sebulan? Atau tiga bulan…? Atau jangan-
jangan setahun…??
Untuk menghilangkan rasa penasaran, Markum
mendatangi kediaman Haji Duloh. Markum ingin
menanyakan kebenaran tentang malam lailatul qadar itu.
Terutama soal berapa lama ia harus menunggu doanya
dikabulkan Tuhan.
“Kum, denger ye…, Gue emang punya lima toko kain.
Tapi semua itu dari hasil kerja keras gue selama puluhan
tahun! Kalo pun gue udah dua kali naik haji, karena gue
mampu bayarnya, yang duitnya dari keuntungan toko-toko
gue tadi. Terus kalo pun gue udah tiga kali kawin, karena
gue emang ganteng, nggak kayak elo…? Heheh, maaf
Kum, bukannya nyindir . Terus, kalo pun gue punya
banyak mobil, rumah, semuanya dari hasil kerja keras.
Kalo elo mau kayak gue , elo kudu kerja keras juga. Nggak
cuman berharap duduk-duduk di dalem mesjid…?” terang
haji Duloh panjang lebar, membuat Markum sesak nafas.
“Kalo begitu, percuma dong saya berdoa malem-malem
di malam lailatul qadar ?” ujar Markum.
“Lha , doa tuh kagak ada yang percuma, Kum! Kalo pun
kagak dikabulkan di dunia, mungkin nanti di akhirat.
Lagian, emang siapa yang tahu malam datangnya lailatul
qadar ? Nabi aja kagak tahu kapan persisnya.”
“Wah, berarti saya ketipu , Pak Haji…??!”
“Hah?! Ketipu pegimane??”
“Soalnya saya udah nguber-nguber malam lailatul qadar
itu? Kalo nggak ada hasilnya, kan percuma…?”
“Kum, malam lailatul qadar itu kagak perlu dikejar! Kalau
Allah berkehendak, dia yang bakalan datengin elo.…”
“Masak sih Pak Haji?”
“Ye, yang penting elo ikhlas….”
Setelah mendapat penjelasan dari Haji Duloh, Markum
pulang. Pada malam yang ke-29 dan ke-30, meski tidak
bermaksud mengejar malam lailatul qadar , Markum
ternyata tetap bermalam di masjid. Markum tidak mau
berdoa muluk-muluk. Dia hanya ingin punya uang buat
lebaran.
Ustad Sahroni, yang melihat kegigihan Markum, siangnya
menghampiri Markum. Kebetulan Ustad Sahroni lagi
dapat rezeki lebih. Ustadz Sahroni memberikan amplop
buat Markum, karena beliau merasa senang pada Markum
yang mau berubah. Selain itu, semalam Ustad Sahroni
yang berjalan melintasi masjid mendengar doa Markum
yang diucapkan keras-keras itu.
Setelah mendapat amplop dari Ustad Sahroni, Markum
merasa bahwa semalam ia benar-benar telah menemukan
malam lailatul qadar ! (*)
(Sumber:cerpenkoranrepublika)
(Image:google)
[ Read More ]

Posted by PONDOK TNUR - - 0 komentar

Ayahku mengingkan sebuah hadiah untuk lebaran. Sebuah
sorban. Ya, hanya sebuah sorban. Tapi bukan sorban biasa
yang bisa kautemui di toko-toko baju di kota kecilku. Melainkan
sorban istimewa yang seperti miliknya seorang ustad ternama.
Ustadz itu sering tampil di layar kaca, dan kalau tampil selalu
mengenakan sorban yang modelnya sama. “Aku ingin sorban
yang seperti itu, itu akan menjadi hadiah lebaran terindah
untukku.”
Aku tahu, aku harus memenuhi keinginan ayah. Dan aku sudah
berusaha semampunya, berkeliling ke pasar dan toko-toko
baju di seluruh kotaku. Namun sampai tiga hari menjelang
lebaran, sorban itu belum juga kudapatkan.
Kemudian aku mendapat kabar dari seorang tetangga yang
kebetulan punya sorban yang mirip dengan ustadz ternama itu.
Sorban berbentuk segiempat yang bisa dililit-lilit di kepala.
“Dari mana Anda membelinya?” tanyaku pada Pak Haji pemilik
sorban. Dan dia menjawab dengan bangganya, “Ini kubeli di
Bandung, dari butik muslim. Yang beginian memang cuma ada
di Bandung. Di kota kecil ini mah tidak ada. Harganya juga
mahal. Lima ratus ribu.”
Kakiku seperti mencelos dari pijakan. “Lima ratus ribu? Belum
ongkos ke Bandungnya. Untuk pulang pergi naik bis saja
takkan kurang dari dua ratus ribu.” Aku terduduk lesu.
“Daripada repot-repot pergi ke Bandung,” kata Pak Haji. “Beli
saja punyaku, tapi harganya sejuta.”
Mataku membelalak seolah mau keluar dari rangkanya. Sejuta?
Duh, Pak Haji ini, yang benar saja. Darimana aku dapat uang
sebanyak itu? Baiklah, uang sejuta di jaman sekarang tidaklah
sangat besar. Namun untuk ukuran pemuda yang masih
menganggur sepertiku, jumlah itu cukup untuk membuat leher
terasa kaku.
Aku pulang ke rumah dengan hati risau. Kulihat Ayah sedang
duduk di kursi goyang, semakin hari kesehatannya semakin
mencemaskan. Umurnya bertambah tua, sakit-sakitan dan…
kesepian. Anak-anaknya, kecuali aku, sudah pergi merantau ke
kota besar. Mereka seolah sudah tak mempedulikan dirinya.
Dan sekarang, satu-satunya keinginannya, yakni memiliki
sorban yang mirip kepunyaan ustadz favoritnya, nampaknya
takkan terkabul.
Aku sedih memikirkan ayahku. Juga sedih memikirkan diriku.
Sejak lulus dari SMA, teman-temanku sudah pergi ke luar kota,
baik untuk kuliah maupun mencari kerja. Mereka memberikan
kebanggaan pada keluarga yang ditinggalkan, baik reputasi
sebagai mahasiswa, maupun upah yang dikirim setiap
bulannya. Sedangkan aku, hanya bisa duduk di sini, di rumah
ini, menunggui ayahku yang semakin larut dengan dunianya
sendiri. Dia sudah tua, dan yang dibicarakannya hanyalah
kematian. “Kalau aku mati, tolong kuburkan di halaman
belakang, di samping nisan Ibumu,” ujar Ayah suatu kali.
“Kalau aku mati, kau harus pergi merantau dan menemui
kakak-kakakmu,” ujar Ayah di kali yang lain. “Kalau aku mati,
siapa yang akan mengurusmu?” isak Ayah sambil memelukku
seolah aku ini anak kecil. Hey, umurku bukan 2 tahun, tapi 22
tahun!
Di kesempatan lain, Ayah berubah menjadi pemberang.
Seharian marah-marah dan membanting barang. “Berhenti
genjrang-genjreng, atau akan kubuang gitar bututmu itu,”
hardik Ayah saat melihatku duduk-duduk di teras sambil
memetik gitar, menirukan suara serak vokalis ST12.
Semarah apapun Ayah, aku tak pernah merasa tersinggung
atau kesal. Aku memaklumi bahwa semakin tua, perangai
seseorang akan semakin tak menyenangkan. Ayah kembali
menjadi bayi kecil yang rewel, dan itulah siklus kehidupan.
Yang muda menjadi tua dan kembali seperti anak kecil lagi.
Tapi kalau Ayah sudah menyinggung soal gitarku, apalagi
mengatainya sebagai “gitar butut”, kemarahanku langsung
terlecut.
“Ayah jangan bilang ini gitar butut. Meski butut, ini adalah
masa depanku,” ujarku setiapkali Ayah mengomeli gitarku.
Bagi Ayah, aku dan gitarku ini ibarat sosok seniman muda
yang kumal dan putus asa, sama seperti yang sering
ditemuinya pada sosok pengamen jalanan yang semakin lama
semakin memenuhi sudut-sudut kota.
Aku tahu, aku sadar, bahwa aku masih menganggur. Tak bisa
memenuhi semua kebutuhan Ayah. Tapi sejak lulus SMA, gitar
inilah satu-satunya temanku, dan harapanku. Dengan gitar ini,
aku sudah menciptakan beberapa lagu, yang sekarang sudah
diputar sebagai jingle-jingle di radio lokal. Aku tak berharap
menjadi seorang penyanyi terkenal, namun bagiku gitar ini
punya masa depan. Aku akan terus mencipta lagu, dan
mungkin suatu saat nanti akan ada yang mau membeli lagu-
laguku untuk dinyanyikan para penyanyi terkenal. Aku akan
mendapat royalti dari lagu-laguku, dan kata temanku yang
sudah hampir lulus sarjana, itu namanya passive income.
Lebaran tinggal dua hari lagi. Pak Haji sudah menanyaiku lagi
apakah aku tertarik untuk membeli sorbannya. Aku belum
menjawab. Sebenarnya, aku sudah berusaha menelepon
kakak-kakakku yang katanya berhasil di perantauan. Tapi tak
ada satu pun dari mereka yang merespon kata-kataku.
“Ayah ingin sorban yang mirip punyanya ustadz di TV?
Emangnya Ayah mau tampil di TV! Ada-ada saja kamu,” ujar
kakak sulungku yang sekarang sudah jadi karyawan sebuah
bank di Jakarta.
“Beliin saja sorban yang ada di pasar, Ayah pasti tidak akan
tahu,” kata kakak keduaku yang sekarang sudah jadi manajer
toko elektronik di Tangerang.
“Hah, sejuta? Mana ada sorban yang harganya segitu! Cari aja
yang dibawah seratus ribu, pasti banyak,” usul kakak ketigaku
yang sudah jadi istri pengusaha. Sejak menikah, kakakku yang
ini memang jadi agak pelit. Uangnya hanya dipakai untuk ke
salon dan belanja, tapi tak sedikitpun tertarik untuk
membelikan sesuatu yang disukai Ayah.
Aku masih ingat, selalu ingat, setiap kali lebaran datang, ketiga
kakakku akan pulang. Mereka datang dengan mobil mengilap,
pakaian bagus, dan oleh-oleh sebagasi penuh. Namun satu
yang mereka tak pernah lakukan, bertanya kepada Ayah, apa
sih sebetulnya yang beliau inginkan. Mereka menghabiskan
banyak uang hanya untuk oleh-oleh yang menurut mereka
bagus, mahal, atau hanya dapat dibeli di kota besar. Tapi
mereka tak pernah tahu, dan tak mau tahu, hadiah apa yang
akan membuat Ayah merasa spesial.
Malam itu, dua hari menjelang lebaran, aku berkumpul dengan
teman-temanku seusai sholat tarawih. Seperti biasa kami
kumpul di pos kamling, menyiapkan segala sesuatunya untuk
keliling kompleks membangunkan sahur besok pagi. Aku
memang aktif menjadi pengurus karang taruna dan mesjid
selama Ramadhan ini.
Tiba-tiba, Amiruddin, salah seorang dari kami, mengajak aku
dan Bondan menjauh. Kami pergi ke tempat yang agak
tersembunyi.
“Kalian tahu haji Surya, kan?” Amiruddin berbisik. “Kabarnya
dia lagi berangkat ke Semarang, mau lebaran di sana.
Rumahnya kosong. Kalau kalian berminat ikut denganku besok
malam saat orang-orang sholat tarawih, kita bisa bagi hasil…”
Aku dan Bondan saling berpandangan. Sesaat otakku berputar,
berusaha mencerna makna dari kalimat temanku itu. Tiba-tiba
perutku terasa mual. Apa ini? Dia sedang membicarakan
rencana perampokan?
“Ada dua buah TV 29 inch di ruang tengah, satu lagi di kamar,
dan sekotak perhiasan di lemari pakaian,” Amirudin sibuk
menjelaskan. Jelas saja dia tahu benda-benda berharga milik
haji Surya, karena dia mantan pegawai di rumah itu. Amir
pernah bekerja sebagai tukang kebun lalu naik pangkat
menjadi sopir pribadi, dan dipecat karena ketahuan pacaran
dengan salah satu anak perempuan haji Surya.
“Tugasmu hanya berjaga di luar, memberi tanda kalau ada
orang datang, dan sebagai imbalannya, kau boleh memiliki
salah satu dari TV 29 inch itu,” bujuknya.
Dengan dada berdebar, aku mulai menghitung-hitung. TV 29
inch kan harga pasarannya sekitar dua juta. Kalau laku sejuta
saja, itu akan cukup untuk membelikan Ayah…
Oh, tidak! Aku bergidik dan menggelengkan kepala.
“Tapi ayahmu sangat menginginkan sorban itu, dan memenuhi
keinginan orangtua wajib hukumnya,” Bondan yang sudah
terkena bujukan Amirudin berkata enteng.
“Iya tapi bukan dengan jalan merampok,” bantahku.
Amirudin tertawa dan menepuk bahuku. “Ya udah terserah.
Tapi kalau kamu berubah pikiran, besok malam kita kumpul di
pos kamling, aku akan paparkan strateginya. Dan ingat, ini misi
rahasia.” Akhirnya, kami bertiga pun bubar.
Malam itu aku tak bisa tidur. Rencana teman-temanku begitu
mengusik batinku. Aku mencoba menghapus pikiran yang
mengusik itu dengan memetik gitar di kamarku. Namun dari
kamar bawah, Ayah terbatuk-batuk keras dan berteriak, “Gitar
bututmu itu membuat telingaku sakit!”
Esoknya aku bergerak ke sana kemari, meminjam uang ke
sana-sini, kepada teman-temanku sesama pemuda mesjid,
dan kepada orang-orang yang suka nongkrong di pangkalan
ojek. Tapi seperti sebelum-sebelumnya, tak ada yang bisa
membantuku. Hari semakin sore. Adzan maghrib tiba, namun
bukannya senang karena bisa berbuka puasa, aku malah
cemas. Ketika adzan Isya terdengar, dan orang-orang mulai
pergi ke mesjid untuk tarawih, kita kumpul di pos kamling,
kata-kata Amirudin terngiang lagi.
Setelah sholat maghrib, aku tidak pergi ke mesjid untuk
mempersiapkan karpet untuk sholat tarawih seperti biasanya.
Aku mengurung diri di kamar. Bimbang. Lalu kupetik gitar
pelan-pelan. Ayah terbatuk dan berteriak, “Bukannya ke
mesjid atau ngaji, malah genjrang-genjreng. Makin hari kamu
makin seperti berandalan saja!”
Kulemparkan gitar ke sudut kasur. Bunyi senar beradu dengan
pinggiran ranjang kayu membuat hatiku resah. Aku semakin
gelisah. Sudah seminggu ini batuk-batuk Ayah semakin parah.
Sudah beberapa kali aku mengantarnya berobat ke rumah
sakit, namun belum sembuh juga. Aku takut Ayah takkan
bertahan lebih lama. Sementara keinginannya untuk memiliki
sorban belum terpenuhi. Apa yang harus kulakukan? Lusa
adalah lebaran, dan besok adalah hari terakhir di mana aku
bisa membelikan sorban sebagai hadiah lebaran untuknya.
Aku tahu, sebetulnya Ayah tidak terlalu menginginkan sorban
itu. Ayah ingin naik haji. Namun dia tahu, dia tak bisa meminta
kepada anak-anaknya, meskipun kalau bertindak pasti kakak-
kakakku mau mengabulkannya. Dan sorban adalah semacam
pelipur lara hatinya. Hanya itulah satu-satunya hadiah yang ia
tahu takkan memberatkan anak-anaknya, namun bahkan
kakak-kakakku tak menggubrisnya. Kini hanya aku yang bisa
mengabulkan keinginan Ayah – membelikan sorba itu sebagai
hadiah.
Tak terasa adzan Isya berkumandang. Amirudin dan Bondan
pasti sudah menungguku di pos kamling. Akhirnya dengan
sejuta kebimbangan merayap, sekaligus berputarnya akal
sehat, kuganti baju koko dan sarungku dengan kaos oblong
dan celana jins yang lebih simpel. Lalu pelan-pelan kubuka
pintu kamar. Ayah sedang wiridan di kamarnya, dan
kupastikan ia benar-benar tidak melihatku. Dengan hati-hati,
aku berjalan keluar, menutup pintu dan meninggalkan rumah….
***
Hari lebaran tiba. Suara takbir berkumandang melalui
pengeras suara. Kakak-kakaku sudah datang dari rantau
semua. Rumah ini jadi terasa ramai dan hangat kembali. Yah,
meskipun hanya akan berlangsung dua atau tiga hari, lumayan
lah untuk menghapus kesepianku bersama Ayah selama
setahun ini.
Tadi malam kami sudah berkumpul bersama, saling melempar
canda tawa. Kakak-kakakku sibuk mengangkut oleh-oleh yang
mereka bawa dari bagasi. Baju, sarung, peci, dan aneka jenis
makanan mahal tertumpah semua di meja, menunggu giliran
untuk dibuka oleh Ayah. Namun wajah Ayah tidak terlihat
gembira. Kegembiraannya baru terlihat saat ia mengambil
sebuah bungkusan kecil yang kuletakkan di antara tumpukkan
hadiah mahal itu. Sementara aku menyibukkan diri untuk
bermain bersama keponakan-keponakanku, mataku
menangkap detik-detik ketika Ayah membuka hadiah itu.
Hadiah sorban yang telah lama diimpikannya. Dan kedua
matanya berkaca-kaca.
Sepulang sholat ied, Ayah sudah menunggu kami untuk
bergiliran sungkeman padanya. Dan sorban itu sudah melilit di
kepalanya, membuatnya tampak seperti seorang ustadz
betulan. Ketika aku sungkeman padanya, Ayah berbisik. “Aku
sudah tahu,” katanya. Ia mengusap kepalaku dan
mengucapkan terima kasih. Kurasakan air mata jatuh di
pipinya, seperti halnya air mataku juga.
Aku tahu, aku telah banyak mengecewakan Ayah. Sementara
kakak-kakakku sudah sukses di rantau, aku masih menganggur
di rumah. Tapi aku tahu, Ayah mengerti bahwa aku memilih
tetap di rumah agar bisa menemani dan merawat Ayah –
sesuatu yang tak bisa dilakukan oleh kakak-kakakku.
Aku tahu, Ayah mengerti banyak hal tentang diriku, jauh lebih
banyak dari yang aku kira.
Dan pagi ini ketika kami berjalan keluar rumah untuk bersalam-
salaman dengan tetangga kompleks, terdengar rebut-ribut.
“Ada apa ini?” tanya Ayah. Pak RT segera menghampiri kami
dan menjelaskan, “Kemarin malam rumah haji Surya dirampok,
dan perampoknya sudah tertangkap. Ternyata si Amirudin dan
Bondan. Mereka babak belur dihajar warga. Kita harus cepat
bantu mengamankan mereka.”
Aku terdiam lama sekali, sementara Ayah menatapku.
“Bukankah mereka teman-temanmu?” bisiknya.
Aku tertunduk. Ah, ya Allah, seandainya aku tergoda untuk ikut
dalam perampokan itu…
Malam itu aku memang tidak pergi ke pos kamling tempat kami
bertiga janjian. Aku…pergi ke rumah seorang teman. Membawa
suatu misi yang sangat berat untuk kulakukan: menawarkan
gitarku. Yah, meskipun sudah butut, tapi gitar itu sebetulnya
mahal dan sudah jarang di pasaran. Gitar itu adalah hadiah
dari Ibuku menjelang kelulusan – beliau membelikannya empat
tahun lalu sebelum terkena sakit jantung dan meninggal.
Karena temanku sudah lama mengincar gitar itu, dia setuju
untuk membeli gitar kesayanganku dengan harga sejuta.
Kini gitar itu sudah tiada. Dan Ayah tahu, aku begitu berat
untuk melepasnya. Aku menginginkan gitar itu ada di
sampingku seperti Ayah selalu menginginkan sorban impiannya
itu. Namun bagiku, keinginan Ayah adalah yang terpenting, dan
Ayah tahu itu…
Lebaran itu adalah lebaran paling berkesan dalam hidupku.
Sekarang Ayah telah tiada, namun aku bersyukur telah
memberinya hadiah lebaran terindah yang pernah
diinginkannya.****
Cerita ini merupakan salah satu dari kumpulan kisah inspiratif
ramadhan “Ramadhan di Musim Gugur” karya Elie Mulyadi,
(Image:google)
[ Read More ]

Posted by PONDOK TNUR - - 0 komentar

ANAK dari teman istri saya begitu aktif. Belum lama lahir,
ia sudah memiliki akun Facebook! Si anak diaktifkan oleh
sang bunda karena saking sayangya pada si anak pertama
itu. Fenomena ini sudah jamak ditemui. Bayi-bayi dan
batita yang tidak tahu apa-apa soal internet, dikenalkan
oleh orangtua mereka dengan cara mendaftarkan diri di
jejaring social umumnya.
Fenomena lain wujud sayang orangtua, memasangkan foto
aktivitas buah hati mereka di internet. Media sosial menjadi
ruang berekspresi ayah dan bunda si anak dalam
memampangkan prestasi anaknya. Anak bisa apa difoto lalu
diunggah ke internet. Anak tengah melakukan apa atau
sedang berada di mana, segera diberitakan oleh
orangtuanya via internet.
Seorang teman saat saya tanya mengapa begitu aktif
menampilkan buah hati pertamanya di media sosial,
menjawab sederhana saja. “Itu cara berkomunikasi dengan
keluarga di lain kota.” Ya, dengan sekali tayang di media
sosial, kakek dan nenek, paman dan bibi, Oom dan tante,
bias mengakses informasi seberapa jauh cucu dan/atau
keponakan mereka mengalami kemajuan.
Hak setiap orangtua sih untuk menampilkan foto-foto anak-
anaknya. Beragam alasan bisa dikemukakan untuk
mendukung pilihan mereka. Mungkin sudah ditimbang jauh-
jauh, walau tampaknya lebih banyak yang sekadar menuruti
emosi untuk berbagi kepada khalayak di jagat maya.
Keinginan berkomunikasi dengan saudara di berbeda
tempat boleh jadi logis, tapi bukankah sekarang peranti
ponsel memadai ketimbang berbagi ke banyak khlayakan
yang tidak berkepentingan?
Cinta pada buah hati, terutama anak pertama atau anak
dengan jenis kelamin yang didamba lama, terkadang
melahirkan hasrat bereksis di jagat maya. Cinta pada buah
hati tersederhanakan dengan keaktifan orangtua berbagi
kepada sesama. Tidak dipikir masak-masak apakah itu
modus operandi mengeksiskan diri orangtuanya ataukah
bukan. Belum lagi bicara antisipasi bahayanya di kemudian
hari.
Maraknya penculikan anak dan pelecehan seksual pada
anak mestinya menjadikan para ayah dan bunda tidak
semberono membagikan foto-foto buah hatinya di internet.
Saying, banyak orangtua atas nama cinta tidak menyadari
hal ini. Kita tidak pernah tahu teman atau pengikut di media
social apakah semua orang baik ataukah tidak. Pintu masuk
kejahatan mestinya bias diantispasi dari sini.
Sadar bahaya pada anak-anak, saya sendiri sudah
mengurangi untuk mengeksiskan anak melalui foto.
Kalaupun menampilkan foto, sebisa mungkin porsi
wajahnya tidak begitu tampak. Sekadar wakil fisik yang
ada, cukuplah. Rasanya amat tidak memadari manfaat
mengeksisikan anak dengan celaka yang bakal diterimanya
nanti. Bagaimanapun juga, lebih baik mencegah daripada
menyesal kemudian, bukan? []
(Sumber: http://rumahkeluarga-indonesia.com/pampang-foto-
anak-1151/ )
(Image:google)
[ Read More ]

Posted by PONDOK TNUR - - 0 komentar

Seorang anak laki-laki kecil bertanya kepada ibunya
"Mengapa
ibu menangis?"
"Karena aku seorang wanita", kata sang ibu kepadanya.
"Aku tidak mengerti", kata anak itu.
Ibunya hanya memeluknya dan berkata, "Dan kau tak akan
pernah
mengerti"
Kemudian anak laki-laki itu bertanya kepada ayahnya,
"Mengapa
ibu suka menangis tanpa alasan?"
"Semua wanita menangis tanpa alasan", hanya itu yang
dapat
dikatakan oleh ayahnya.
Anak laki-laki kecil itu pun lalu tumbuh menjadi seorang
laki-laki
dewasa, tetap ingin tahu mengapa wanita menangis.
Akhirnya ia menghubungi Tuhan, dan ia bertanya,
"Tuhan,mengapa wanita begitu mudah menangis?"
Tuhan berkata dlm mimpinya :
"Ketika Aku menciptakan seorang wanita, ia diharuskan
untuk menjadi seorang yang istimewa. Aku membuat
bahunya cukup kuat untuk menopang dunia; namun, harus
cukup lembut untuk memberikan kenyamanan "
"Aku memberikannya kekuatan dari dalam untuk mampu
melahirkan anak dan menerima penolakan yang seringkali
datang dari anak-anaknya "
"Aku memberinya kekerasan untuk membuatnya tetap tegar
ketika orang-orang lain menyerah, dan mengasuh
keluarganya dengan penderitaan dan kelelahan tanpa
mengeluh "
"Aku memberinya kepekaan untuk mencintai anak-anaknya
dalam setiap keadaan, bahkan ketika anaknya bersikap
sangat menyakiti hatinya "
"Aku memberinya kekuatan untuk mendukung suaminya
dalam kegagalannya dan melengkapi dengan tulang rusuk
suaminya untuk melindungi hatinya "
"Aku memberinya kebijaksanaan untuk mengetahui bahwa
seorang suami yang baik takkan pernah menyakiti isterinya,
tetapi kadang menguji kekuatannya dan ketetapan hatinya
untuk berada disisi suaminya tanpa ragu "
"Dan akhirnya, Aku memberinya air mata untuk
diteteskan.Ini adalah khusus miliknya untuk digunakan
kapan pun ia butuhkan."
"Kau tahu:
Kecantikan seorang wanita bukanlah dari pakaian yang
dikenakannya, sosok yang ia tampilkan, atau bagaimana ia
menyisir rambutnya."
"Kecantikan seorang wanita harus dilihat dari matanya,
karena itulah pintu hatinya - tempat dimana cinta itu ada."
Kecantikan wanita bukan pada kehalusan wajah. Tetapi
pada kecantikan yang murni, terpancar pada jiwanya, yang
dengan penuh kasih memberikan perhatian dan cinta dia
berikan. Dan kecantikan itu akan tumbuh sepanjang waktu.
(sumber:blogreza)
(Image:google)
[ Read More ]

Posted by PONDOK TNUR - - 0 komentar

Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya
yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan
kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi
sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama
sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan
wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama
kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi
senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan
pandanganku.
Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak
menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin
mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis
tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya
berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku.
Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi
pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis.
Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat
apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami
berbicara. Aku teringat betapa aku tak pernah
memperhatikan kesehatannya.
Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia
selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan
vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika
mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen
mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang
menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah
tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya.
Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai.
Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah
penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak
mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan
mie instant karena aku hampir tak pernah memasak
untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku
sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika
pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa.
Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor
cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi
permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena
tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.
Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku
pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan
tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai
terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan
rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku
membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu
mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.
Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah
kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku
malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di
hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu
memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku
membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat
suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek
dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku
berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku
yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar
mandi berharap ia yang datang.
Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa
melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya
kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku
menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku
terbangun dengan sosoknya disebelahku. Dulu aku begitu
kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi
sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu
mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering
berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar
tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal
jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di
laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi
komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya
masih tertinggal disana. Dulu aku paling tidak suka ia
membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya
yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau
kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya,
sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa
mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua
kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa,
dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.
Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena
semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku
marah karena baju-bajunya masih disana meninggalkan
baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa
menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak
ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang
mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan
ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta
maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang
dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi
istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna.
Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi
sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu
banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak.
Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak
pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah
kepergian suamiku. Empat puluh hari setelah kematiannya,
keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan.
Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi.
Kembali rasa bingung merasukiku.
Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua
dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini
aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah
yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan
pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa.
Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir
beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku
terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer
ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun
menggunakan untuk keperluan rumah tangga.
Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi
kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya
sekalipun soal itu. Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja
atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji
terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk
menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja dimana? Aku hampir
tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu
diatur oleh dia.
Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku
datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali
dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat
pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh
kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya
dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu
berkata apapun adalah isi suratnya untukku.
"Istriku tersayang,
Maaf karena aku harus meninggalkanmu terlebih dahulu.
Maaf karena harus membuatmu bertanggung-jawab
mengurus segalanya sendiri.
Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang
lagi.
Allah telah memberikanku kebahagiaan karena memilikimu
dan juga anak-anak. Bagiku, menyayangimu dan merawat
anak-anak adalah hal terbaik dalam hidupku. Seandainya aku
bisa, aku ingin mendampingi kamu selamanya. Aku tak ingin
kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja.
Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk
kehidupan kamu dan anak-anak kita nanti. Sayang, aku tak
ingin melihat dan mendengar kamu susah setelah aku tiada.
Tak banyak yang bisa kuberikan, tetapi aku berharap kamu
bisa memanfaatkan tabungan itu untuk membesarkan dan
mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya
sayang.
Sayangku yang manja, jangan nangis yah..
Lakukanlah banyak hal terbaik untuk hidupmu yang selama
ini pernah terbuang percuma. Aku selalu memberikan
kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang
mungkin tak sempat kamu lakukan selama ini.
Maafin aku ya sayang, kalau aku sering nyusahin kamu
selama ini. Aku tahu selama ini kamu tak pernah tulus
mencintaiku, namun aku ingin kamu tahu satu hal. Besarnya
cintaku untukmu, melebihi kebencianmu padaku duhai istriku
yang cantik.
Semoga Tuhan memberikanmu jodoh yang lebih baik dariku.
Kemanapun aku pergi, aku akan selalu menyayangimu. Aku
mencintai kamu selamanya."
"Teruntuk Farah, putri tercintaku.
Maafkan ayah, karena ayah tidak bisa mendampingi kamu
hingga hari pernikahanmu nanti. Jadilah istri yang baik
seperti Ibumu."
"Untuk Farhan, ksatria pelindungku.
Jaga Ibu dan Farah ya sayang. Jangan jadi anak yang bandel
lagi dan harus selalu nurut sama ibu. Ayah akan selalu
bahagia melihat kalian disana. Oke, Buddy!"
Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan
kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia
mengirimkan note. Notaris memberitahukanku bahwa, selama
ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan
deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku
membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan
tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil, meskipun
dikelola oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa
menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada
kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri
kami dengan kasih sayang.
Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi.
Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus
sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari
demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku.
Kini kedua anak-anak kami berusia 23 tahun. Dua hari lagi
putri kami menikah dengan seorang pemuda dari tanah
seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana
nanti setelah menjadi istri? Soalnya Farah kan ga bisa masak
dan ga bisa nyuci, gimana ya bu?” Aku merangkulnya sambil
berkata, “Yang harus kamu lakukan adalah cinta dan
sayang. Cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah
apa yang ia miliki dan kamu akan mendapatkan apa yang
kamu harapkan. Karena dengan cintalah kamu akan belajar
menyenangkan hatinya dan akan belajar menerima
kekurangan suamimu nanti. Sebesar apapun persoalan yang
akan kalian hadapi nanti, kalian akan menyelesaikannya atas
nama cinta dan sayang.”
Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta
itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai
sekarang?” Aku menggeleng, “Bukan, sayangku. Cintai dan
sayangilah suamimu nanti seperti ayah mencintai ibu dulu.
Seperti ayah mencintai kamu dan Farhan. Ibu setia pada
ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan
kalian berdua.”
Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan
cintaku pada suamiku. Aku pernah menghabiskan 10 tahun
untuk membencinya, tetapi kini aku telah menghabiskan
hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku
bebas darinya karena kepergiannya, tapi aku tak pernah bisa
bebas dari cintanya yang begitu tulus untuk aku dan anak-
anak kami.
Maafkan aku suamiku tersayang, semoga kamu diterima
disisi-Nya. Amiin..
( Http://hohattenelahatte.blogspot.com/2012/12/kisah-nyata-
suamiku-maafkan-aku-part-2.html?m=1 )
(Image:google)
[ Read More ]

Posted by PONDOK TNUR - - 0 komentar

Empat tahun yang lalu, kecelakaan telah merenggut orang
yang kukasihi, sering aku bertanya-tanya, bagaimana
keadaan istri saya sekarang di alam surgawi, baik-baik
sajakah? Dia pasti sangat sedih karena sudah meninggalkan
sorang suami yang tidak mampu mengurus rumah dan
seorang anak yang masih begitu kecil. Begitulah yang
kurasakan, karena selama ini saya merasa bahwa saya telah
gagal, tidak bisa memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani
anak saya, dan gagal untuk menjadi ayah dan ibu untuk anak
saya.
Pada suatu hari, ada urusan penting di tempat kerja, aku
harus segera berangkat ke kantor, anak saya masih tertidur.
Ohhh... aku harus menyediakan makan untuknya.
Karena masih ada sisa nasi, jadi aku menggoreng telur untuk
dia makan. Setelah memberitahu anak saya yang masih
mengantuk, kemudian aku bergegas berangkat ke tempat
kerja.
Peran ganda yang kujalani, membuat energiku benar-benar
terkuras. Suatu hari ketika aku pulang kerja aku merasa
sangat lelah, setelah bekerja sepanjang hari. Hanya sekilas
aku memeluk dan mencium anakku, saya langsung masuk ke
kamar tidur, dan melewatkan makan malam. Namun, ketika
aku merebahkan badan ke tempat tidur dengan maksud
untuk tidur sejenak menghilangkan kepenatan, tiba-tiba saya
merasa ada sesuatu yang pecah dan tumpah seperti cairan
hangat! Aku membuka selimut dan..... di sanalah sumber
'masalah'nya ... sebuah mangkuk yang pecah dengan mie
instan yang berantakan di seprai dan selimut!
Oh...Tuhan! Aku begitu marah, aku mengambil gantungan
pakaian, dan langsung menghujani anak saya yang sedang
gembira bermain dengan mainannya, dengan pukulan-
pukulan! Dia hanya menangis, sedikitpun tidak meminta
belas kasihan, dia hanya memberi penjelasan singkat:
"Dad, tadi aku merasa lapar dan tidak ada lagi sisa nasi.
Tapi ayah belum pulang, jadi aku ingin memasak mie instan.
Aku ingat, ayah pernah mengatakan untuk tidak menyentuh
atau menggunakan kompor gas tanpa ada orang dewasa di
sekitar, maka aku menyalakan mesin air minum ini dan
menggunakan air panas untuk memasak mie. Satu untuk
ayah dan yang satu lagi untuk saya ... Karena aku takut
mie'nya akan menjadi dingin, jadi aku menyimpannya di
bawah selimut supaya tetap hangat sampai ayah pulang.
Tapi aku lupa untuk mengingatkan ayah karena aku sedang
bermain dengan mainan saya ... Saya minta maaf Dad ... "
Seketika, air mata mulai mengalir di pipiku ... tetapi, saya
tidak ingin anak saya melihat ayahnya menangis maka aku
berlari ke kamar mandi dan menangis dengan menyalakan
shower di kamar mandi untuk menutupi suara tangis saya.
Setelah beberapa lama, aku hampiri anak saya, memeluknya
dengan erat dan memberikan obat kepadanya atas luka
bekas pukulan dipantatnya, lalu aku membujuknya untuk
tidur. Kemudian aku membersihkan kotoran tumpahan mie di
tempat tidur.
Ketika semuanya sudah selesai dan lewat tengah malam, aku
melewati kamar anakku, dan melihat anakku masih menangis,
bukan karena rasa sakit di pantatnya, tapi karena dia sedang
melihat foto mommy yang dikasihinya.
Satu tahun berlalu sejak kejadian itu, saya mencoba, dalam
periode ini, untuk memusatkan perhatian dengan memberinya
kasih sayang seorang ayah dan juga kasih sayang seorang
ibu, serta memperhatikan semua kebutuhannya. Tanpa
terasa, anakku sudah berumur tujuh tahun, dan akan lulus
dari Taman Kanak-kanak. Untungnya, insiden yang terjadi
tidak meninggalkan kenangan buruk di masa kecilnya dan dia
sudah tumbuh dewasa dengan bahagia.
Namun... belum lama, aku sudah memukul anakku lagi, saya
benar-benar menyesal....
Guru Taman Kanak-kanaknya memanggilku dan
memberitahukan bahwa anak saya absen dari sekolah. Aku
pulang kerumah lebih awal dari kantor, aku berharap dia bisa
menjelaskan. Tapi ia tidak ada dirumah, aku pergi mencari di
sekitar rumah kami, memangil-manggil namanya dan
akhirnya menemukan dirinya di sebuah toko alat tulis,
sedang bermain komputer game dengan gembira. Aku
marah, membawanya pulang dan menghujaninya dengan
pukulan-pukulan. Dia diam saja lalu mengatakan, "Aku minta
maaf, Dad".
Selang beberapa lama aku selidiki, ternyata ia absen dari
acara "pertunjukan bakat" yang diadakan oleh sekolah,
karena yg diundang adalah siswa dengan ibunya. Dan itulah
alasan ketidakhadirannya karena ia tidak punya ibu.....
Beberapa hari setelah penghukuman dengan pukulan rotan,
anakku pulang ke rumah memberitahu saya, bahwa
disekolahnya mulai diajarkan cara membaca dan menulis.
Sejak saat itu, anakku lebih banyak mengurung diri di
kamarnya untuk berlatih menulis, yang saya yakin, jika istri
saya masih ada dan melihatnya ia akan merasa bangga,
tentu saja dia membuat saya bangga juga!
Waktu berlalu dengan begitu cepat, satu tahun telah lewat.
Saat ini musim dingin, dan hari Natal telah tiba. Semangat
Natal ada dimana-mana juga di hati setiap orang yg lalu
lalang... Lagu-lagu Natal terdengar diseluruh pelosok jalan ....
tapi astaga, anakku membuat masalah lagi. Ketika aku
sedang menyelasaikan pekerjaan di hari-hari terakhir kerja,
tiba-tiba kantor pos menelpon. Karena pengiriman surat
sedang mengalami puncaknya, tukang pos juga sedang
sibuk-sibuknya, suasana hati mereka pun jadi kurang bagus.
Mereka menelpon saya dengan marah-marah, untuk
memberitahu bahwa anak saya telah mengirim beberapa
surat tanpa alamat. Walaupun saya sudah berjanji untuk
tidak pernah memukul anak saya lagi, tetapi saya tidak bisa
menahan diri untuk tidak memukulnya lagi, karena saya
merasa bahwa anak ini sudah benar-benar keterlaluan. Tapi
sekali lagi, seperti sebelumnya, dia meminta maaf : "Maaf,
Dad". Tidak ada tambahan satu kata pun untuk menjelaskan
alasannya melakukan itu.
Setelah itu saya pergi ke kantor pos untuk mengambil surat-
surat tanpa alamat tersebut lalu pulang. Sesampai di rumah,
dengan marah saya mendorong anak saya ke sudut
mempertanyakan kepadanya, perbuatan konyol apalagi ini?
Apa yang ada dikepalanya?
Jawabannya, di tengah isak-tangisnya, adalah : "Surat-surat
itu untuk mommy.....".
Tiba-tiba mataku berkaca-kaca. .... tapi aku mencoba
mengendalikan emosi dan terus bertanya kepadanya: "Tapi
kenapa kamu memposkan begitu banyak surat-surat, pada
waktu yg sama?"
Jawaban anakku itu : "Aku telah menulis surat buat mommy
untuk waktu yang lama, tapi setiap kali aku mau menjangkau
kotak pos itu, terlalu tinggi bagiku, sehingga aku tidak dapat
memposkan surat-suratku. Tapi baru-baru ini, ketika aku
kembali ke kotak pos, aku bisa mencapai kotak itu dan aku
mengirimkannya sekaligus".
Setelah mendengar penjelasannya ini, aku kehilangan kata-
kata, aku bingung, tidak tahu apa yang harus aku lakukan,
dan apa yang harus aku katakan ....
Aku bilang pada anakku, "Nak, mommy sudah berada di
surga, jadi untuk selanjutnya, jika kamu hendak menuliskan
sesuatu untuk mommy, cukup dengan membakar surat
tersebut maka surat akan sampai kepada mommy. Setelah
mendengar hal ini, anakku jadi lebih tenang, dan segera
setelah itu, ia bisa tidur dengan nyenyak. Saya berjanji akan
membakar surat-surat atas namanya, jadi saya membawa
surat-surat tersebut ke luar, tapi.... saya jadi penasaran
untuk tidak membuka surat tersebut sebelum mereka
berubah menjadi abu.
Dan salah satu dari isi surat-suratnya membuat hati saya
hancur......
'Mommy sayang',
Saya sangat merindukanmu! Hari ini, ada sebuah acara
'Pertunjukan Bakat' di sekolah, dan mengundang semua ibu
untuk hadir di pertunjukan tersebut. Tapi kamu tidak ada,
jadi saya tidak ingin menghadirinya juga. Aku tidak
memberitahu ayah tentang hal ini karena aku takut ayah akan
mulai menangis dan merindukanmu lagi.
Saat itu untuk menyembunyikan kesedihan, aku duduk di
depan komputer dan mulai bermain game di salah satu toko.
Ayah keliling-keliling mencari saya, setelah menemukanku
ayah marah, dan aku hanya bisa diam, ayah memukul aku,
tetapi aku tidak menceritakan alasan yang sebenarnya.
Mommy, setiap hari saya melihat ayah merindukanmu, setiap
kali dia teringat padamu, ia begitu sedih dan sering
bersembunyi dan menangis di kamarnya. Saya pikir kita
berdua amat sangat merindukanmu. Terlalu berat untuk kita
berdua, saya rasa. Tapi mom, aku mulai melupakan
wajahmu. Bisakah mommy muncul dalam mimpiku sehingga
saya dapat melihat wajahmu dan ingat mommy? Temanku
bilang jika kau tertidur dengan foto orang yang kamu
rindukan, maka kamu akan melihat orang tersebut dalam
mimpimu. Tapi mommy, mengapa engkau tak pernah
muncul?
Setelah membaca surat itu, tangisku tidak bisa berhenti
karena saya tidak pernah bisa menggantikan kesenjangan
yang tak dapat digantikan semenjak ditinggalkan oleh istri
saya ....
Untuk para suami, yang telah dianugerahi seorang istri yang
baik, yang penuh kasih terhadap anak-anakmu selalu
berterima-kasihlah setiap hari padanya. Dia telah rela
menghabiskan sisa umurnya untuk menemani hidupmu,
membantumu, mendukungmu, memanjakanmu dan selalu
setia menunggumu, menjaga dan menyayangi dirimu dan
anak-anakmu.
Hargailah keberadaannya, kasihilah dan cintailah dia
sepanjang hidupmu dengan segala kekurangan dan
kelebihannya, karena apabila engkau telah kehilangan dia,
tidak ada emas permata, intan berlian yg bisa menggantikan
posisinya.
( sumber: http://noviani-a-i.blogspot.com/2010/03/kondisi-
setelah-istri-meninggal-kisah.html?m=1 )
(Image:google)
[ Read More ]

Posted by PONDOK TNUR - - 0 komentar

Beberapa waktu yang lalu, sebuah foto yang menyentuh
hati tersebar di internet. Foto itu menggambarkan
seorang pria yang menggendong wanita lanjut usia
dengan kain gendongan, seperti seorang ibu yang
menggendong anaknya. Foto itu begitu mencuri perhatian
dan banyak orang yang bertanya, siapa dia? Siapa yang
digendongnya? Apa yang sedang mereka lakukan?
Foto tersebut rupanya adalah foto seorang pria yang
sudah berusia 62 tahun dan bernama Ding Zhu Ji. Ia
sedang berada di salah satu rumah sakit di China untuk
mengantarkan ibunya. Sang ibu yang sudah berusia
sangat tua, ringkih dan mengalami patah tulang, akhirnya
digendong oleh Ding Zhu Ji ke rumah sakit. Ia
melakukannya karena berpikir bahwa menggendong
ibunya ke rumah sakit akan lebih cepat sampai dan
dirinya tidak akan merasa terlalu lelah walau
menggendong ke sana.
Pria ini sama sekali tak menduga bahwa apa yang ia
lakukan akan mencuri perhatian banyak orang.
Pemandangan yang begitu menyentuh ini kemudian
diabadikan oleh seseorang dalam bentuk foto yang kini
beredar luas di internet. Selain itu, CCTV rumah sakit
juga sempat merekam momen di mana pria ini
menggendong ibunya yang nampak seperti bayi.
Sang ibu saat ini sudah berusia 85 tahun, namun Ding
Zhu Ji mengisahkan bahwa ia sangat berhutang budi
pada ibunya. Saat masih mengandung Ding Zhu Ji usia 6
bulan, keduanya nyaris dilempar ke laut karena sang ibu
tidak sengaja menghilangkan kartu identitas naik perahu
bersama prajurit Taiwan. Banyak orang yang memohon
agar ibu Ding Zhu Ji yang sedang mengandung itu tidak
dilempar ke laut, hingga detik-detik menegangkan itu
berubah melegakan karena ada orang yang menemukan
kartu identitas mereka.
Ding Zhu Ji yang mendengar kisah itu dari ibunya
menjadi semakin sayang pada wanita yang telah
melahirkan dan membesarkannya tersebut. Meski
merupakan anak sulung, dirinyalah yang paling dekat
dengan sang ibu. Bahkan hingga setua ini pun, ia masih
merawat sang ibu. Ding Zhu Ji juga merasa bersalah
karena tak menjaga ibunya dengan baik sehingga
mengalami patah kaki kiri. Ding Zhu Ji pernah sangat
ingin membawa ibunya yang sudah menua dan mulai
pikun untuk pulang dan menemui saudara di Tiongkok.
Sayangnya sebelum itu sempat terjadi, sang ibu sudah
kehilangan ingatannya dan hal itu membuatnya sangat
menyesal.
Ladies, Anda pasti pernah sejenak mengingat masa kecil
Anda, kemudian membandingkannya dengan masa
sekarang di mana Anda sudah dewasa dan bisa memilih
serta memutuskan apa yang Anda inginkan. Masa kecil
Anda dengan orang tua yang menimang dan menyayangi,
sesekali memarahi dan membuat kita menangis atau
kesal. Namun semua itu pada dasarnya adalah wujud
kasih sayang orang tua yang ingin selalu bisa melindungi
anaknya.
Lantas, sudah berbuat apakah kita pada orang tua?
Bayangkan bila kita tua nanti. Kita bukan lagi sosok yang
kuat dan bergairah seperti sekarang. Kita sudah menjadi
sosok yang rapuh dan perlahan tapi pasti, usia akan
memundurkan semua kemampuan kita. Kita akan kembali
seperti bayi yang butuh pertolongan anak-anak kita.
Ding Zhu Ji adalah sebuah inspirasi nyata mengenai anak
yang berbakti pada ibunya. Bagaimanapun orang tua kita
sudah menua dan pikun, dahulunya mereka adalah orang
yang selalu menuntun kita berjalan, mengajari kita bicara,
tempat berlindung dan mencurahkan air mata, tempat
bermanja yang tulus dan menyayangi kita. Berbaktilah
pada orang tua. Lakukan apa yang bisa kita lakukan
untuk membahagiakan mereka selagi kita masih bersama
mereka.
Tunjukkan kehadiran Anda yang tersenyum tulus
padanya. Maka tak ada yang lebih membahagiakan
kedua orang tua Anda selain anak-anaknya yang masih
mengingat dan menyayangi mereka.
( http://m.vemale.com/inspiring/lentera/20860-kisah-meng
harukan-di-balik-foto-anak-menggendong-ibunya.html #)
(Image:google)
[ Read More ]

Posted by PONDOK TNUR - - 0 komentar

Kecantikan raga itu tidaklah akan abadi namun kecantikan hati
itulah yang akan haqiqi, rumah tangga tidak dibangun atas
dasar nafsu namun atas dasar ketakwaan dan keikhlasan
kepada Allah Subhanahu wata'ala, siapakah yang lebih
mengetahui kebaikan bagi diri kita melainkan Allah Subhanahu
wata'ala ?
SIMAK KISAH INI....Hari pernikahanku. Hari yang paling
bersejarah dalam hidup. Seharusnya saat itu aku menjadi
makhluk yang paling berbahagia. Tapi yang aku rasakan justru
rasa haru biru.
Betapa tidak. Di hari bersejarah ini tak ada satupun sanak
saudara yang menemaniku ke tempat mempelai wanita. Apalagi
ibu. Beliau yang paling keras menentang perkawinanku.
Masih kuingat betul perkataan ibu tempo hari, "Jadi juga kau
nikah sama 'buntelan karung hitam' itu ....?!?" Duh......, hatiku
sempat kebat-kebit mendengar ucapan itu. Masa calon istriku
disebut 'buntelan karung hitam'.
"Kamu sudah kena pelet barangkali Yanto. Masa suka sih sama
gadis hitam, gendut dengan wajah yang sama sekali tak
menarik dan cacat kakinya. Lebih tua beberapa tahun lagi
dibanding kamu !!" sambung ibu lagi.
"Cukup Bu! Cukup! Tak usah ibu menghina sekasar itu. Dia kan
ciptaan Allah. Bagaimana jika pencipta-Nya marah sama
ibu...?" Kali ini aku terpaksa menimpali ucapan ibu dengan
sedikit emosi. Rupanya ibu amat tersinggung mendengar
ucapanku.
"Oh.... rupanya kau lebih memillih perempuan itu ketimbang
keluargamu. baiklah Yanto. Silahkan kau menikah tapi jangan
harap kau akan dapatkan seorang dari kami ada di tempatmu
saat itu. Dan jangan kau bawa perempuan itu ke rumah ini !!"
DEGG !!!!
"Yanto.... jangan bengong terus. Sebentar lagi penghulu tiba,"
teguran Ismail membuyarkan lamunanku. Segera kuucapkan
istighfar dalam hati.
"Alhamdulillah penghulu sudah tiba. Bersiaplah ...akhi," sekali
lagi Ismail memberi semangat padaku.
"Aku terima nikahnya, kawinnya Shalihah binti Mahmud
almarhum dengan mas kawin seperangkat alat sholat tunai !"
Alhamdulillah lancar juga aku mengucapkan aqad nikah.
"Ya Allah hari ini telah Engkau izinkan aku untuk meraih
setengah dien. Mudahkanlah aku untuk meraih sebagian yang
lain."
Dikamar yang amat sederhana. Di atas dipan kayu ini aku
tertegun lama. Memandangi istriku yang tengah tertunduk larut
dalam dan diam. Setelah sekian lama kami saling diam,
akhirnya dengan membaca basmalah dalam hati kuberanikan
diri untuk menyapanya.
"Assalamu'alaikum .... permintaan hafalan Qur'annya mau di
cek kapan De'...?" tanyaku sambil memandangi wajahnya yang
sejak tadi disembunyikan dalam tunduknya. Sebelum menikah,
istriku memang pernah meminta malam pertama hingga ke
sepuluh agar aku membacakan hafalan Qur'an tiap malam satu
juz. Dan permintaan itu telah aku setujui.
"Nanti saja dalam qiyamullail," jawab istriku, masih dalam
tunduknya. Wajahnya yang berbalut kerudung putih, ia
sembunyikan dalam-dalam. Saat kuangkat dagunya, ia seperti
ingin menolak. Namun ketika aku beri isyarat bahwa aku
suaminya dan berhak untuk melakukan itu , ia menyerah.
Kini aku tertegun lama. Benar kata ibu ..bahwa wajah istriku
'tidak menarik'. Sekelebat pikiran itu muncul ....dan segera aku
mengusirnya. Matanya berkaca-kaca menatap lekat pada bola
mataku.
"Bang, sudah saya katakan sejak awal ta'aruf, bahwa fisik saya
seperti ini. Kalau Abang kecewa, saya siap dan ikhlas. Namun
bila Abang tidak menyesal beristrikan saya, mudah-mudahan
Allah memberikan keberkahan yang banyak untuk Abang.
Seperti keberkahan yang Allah limpahkan kepada Ayahnya
Imam malik yang ikhlas menerima sesuatu yang tidak ia sukai
pada istrinya. Saya ingin mengingatkan Abang akan firman
Allah yang dibacakan ibunya Imam Malik pada suaminya pada
malam pertama pernikahan mereka," ... Dan bergaullah dengan
mereka (istrimu) dengat patut (ahsan). Kemudian bila kamu
tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin
kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjanjikan
padanya kebaikan yang banyak."(QS An-Nisa:19)
Mendengar tutur istriku, kupandangi wajahnya yang penuh
dengan air mata itu lekat-lekat. Aku teringat kisah suami yang
rela menikahi seorang wanita yang memiliki cacat itu. Dari
rahim wanita itulah lahir Imam Malik, ulama besar ummat Islam
yang namanya abadi dalam sejarah.
"Ya Rabbi aku menikahinya karena Mu. Maka turunkanlah rasa
cinta dan kasih sayang milikMu pada hatiku untuknya. Agar aku
dapat mencintai dan menyayanginya dengan segenap hati yang
ikhlas."
Pelan kudekati istriku. Lalu dengan bergetar, kurengkuh
tubuhnya dalam dekapku. Sementara, istriku menangis tergugu
dalam wajah yang masih menyisakan segumpal ragu.
"Jangan memaksakan diri untuk ikhlas menerima saya, Bang.
Sungguh... saya siap menerima keputusan apapun yang
terburuk," ucapnya lagi.
"Tidak...De'. Sungguh sejak awal niat Abang menikahimu
karena Allah. Sudah teramat bulat niat itu. Hingga Abang tidak
menghiraukan ketika seluruh keluarga memboikot untuk tak
datang tadi pagi," paparku sambil menggenggam erat
tangannya.
Malam telah naik ke puncaknya pelan-pelan. Dalam
lengangnya bait-bait do'a kubentangkan pada Nya.
"Robbi, tak dapat kupungkiri bahwa kecantikan wanita dapat
mendatangkan cinta buat laki-laki. Namun telah kutepis memilih
istri karena rupa yang cantik karena aku ingin mendapatkan
cinta-Mu. Robbi saksikanlah malam ini akan kubuktikan bahwa
cinta sejatiku hanya akan kupasrahkan pada-Mu. Karena itu,
pertemukanlah aku dengan-Mu dalam Jannah-Mu !"
Aku beringsut menuju pembaringan yang amat sederhana itu.
Lalu kutatap raut wajah istriku denan segenap hati yang ikhlas.
Ah, .. sekarang aku benar-benar mencintainya. Kenapa tidak?
Bukankah ia wanita sholihah sejati. Ia senantiasa menegakkan
malam-malamnya dengan munajat panjang pada-Nya. Ia
senantiasa menjaga hafalan KitabNya. Dan senantiasa
melaksanakan shoum sunnah Rasul Nya.
"...dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah
tandingan-tandingan selain Allah. Mereka mencintainya
sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang
yang beriman amat sangat cintanya pada Allah ..." (QS. al-
Baqarah:165)
Sumber: Lembaga Sakinah (FB)
Image:google
[ Read More ]

Posted by PONDOK TNUR - - 0 komentar

Semua orang pasti setuju bila dikatakan bahwa laki-laki dan
perempuan memiliki kondisi psikologis yang berbeda. Kondisi
psikologis yang secara aktif sangat berpengaruh pada cara
memahami, berbuat, dan merespon sesuatu. Perbedaan
tersebut membuat masing-masing menjadi jelas dan sepertinya
tidak akan mungkin bisa bersandar pada dunia yang sama, cara
berfikir yang sama. Inilah kodrat manusia. Agar tak salah dalam
menafsirkan cara berpikir, maka adalah baiknya mengetahui
bagaimana perbedaan ini? Dengan mengetahui dasar-dasar
perbedaan ini, diharapkan tidak ada lagi rasa curiga.
Selain perbedaan yang mencolok secara fisik, tentu banyak
perbedaan lainnya secara lahiriah. Begitu halnya dalam hal
cara berfikir. Cara berfikir lelaki terkonsentrasi (terpusat) pada
kebutuhannya saja dan hanya memperhatikan dirinya saja.
Sebaliknya pada wanita, akan lebih mudah memperhatikan
sekelilingnya melebihi perhatian pada dirinya sendiri. Ia akan
menngorbankan dirinya sendiri dan tidak merasakan hal
tersebut.
Perbedaan cara berpikir ini yang mendasari sikap tidak saling
memahami jalan pemikiran. Lelaki tidak bisa berfikir dan
menyikapi sesuatu seperti yang dilakukan perempuan. Begitu
juga sebaliknya. Jika masing-masing pihak memaksakan cara
berpikirnya, tentu saja fatal akibatnya. Timbullah rasa frustasi,
ketegangan yang diwarnai pertengkaran, kebencian yang dapat
menimbulkan keretakan dalam rumah tangga.
Lalu, apa saja perbedaan itu?
Cara Berpikir
Otak lelaki dan perempuan berbeda, begitu pula dalam
penggunaannya. Para lelaki akan sulit sekali merubah fikirannya
dalam waktu sekejab. Lain hal dengan wanita.
Jika seorang lelaki dalam konsentrasi penuh melakukan suatu
hal, maka akan sulit baginya untuk membagi konsentrasi pada
hal lainnya.
Jika seorang lelaki dalam konsentrasi penuh melakukan suatu
hal, maka akan sulit baginya untuk membagi konsentrasi pada
hal lainnya. Misalnya, seorang suami sedang asik membaca. Si
istri datang dengan maksud ingin menciptakan suasana hangat.
Namun yang terjadi pada suami adalah si istri mengganggu
konsentrasinya. Hal umum terjadi adalah, suami dan istri sama-
sama menjadi jengkel karena tak terpenuhi keinginannya.
Hal yang harus dilakukan istri adalah, tanyakan pada suami
apakah dia ingin berbincang-bincang padanya. Jika suami
mengatakan kesanggupannya tapi dia tidak melepaskan
matanya dari bacaannya. Lebih baik tak usah dilanjutkan lagi
perbincangan karena sudah pasti suami tidak akan dapat
berkonsentrasi dengan dua macam perbuatan. Lebih baik cari
lagi waktu luang lainnya. Dan hal ini tidak berarti dia tidak
mencintai dan perduli pada istrinya. Hal ini hanyalah karena
tabiat dasar seorang lelaki.
Interaksi dengan dunia luar bagi lelaki adalah pergulatan
dengan dunia luar. Pergulatan yang membutuhkan enerji besar
dan keharusan untuk memenangkannya. Ia harus selalu menjadi
orang yang berada di urutan teratas. Tentu saja interaksi ini
berbeda jauh pada kaum perempuan yang penuh dengan kasih
sayang, dunia penuh cinta, dan hubungan sosial.
Cara berfikir terhadap dunia luarpun menjadi sangat berbeda.
Dimana lelaki berfikir secara sentratif (memusat) akan
mengaitkan satu hal dengan hal lainnya kemudian secara
bertahap membentuk sebuah gambaran yang dapat ia mengerti.
Sedangkan perempuan memiliki sifat ekspansif (meluas) dimana
pada tahap awalnya ia akan mencoba menjelajah segala aspek
yang terkait dengan objek kemudian mengkaitkan bagian-bagian
tersebut.
Contoh sederhana adalah saat berbelanja. Bagi lelaki dimana
cara berfikirnya terkonsentrasi adalah langsung membeli barang
yang dibutuhkannya dan mengabaikan lainnya. Berbeda dengan
perempuan yang bersifat ekspansif. Perempuan membutuhkan
waktu untuk menjelajah sambil menyebarkan sifat
penyayangnya. Tentu hal yang melelahkan bagi lelaki bila ia
dipaksakan harus melakukan hal yang sama seperti kaum
perempuan.
Bagi lelaki, berfikir adalah diam namun bagi perempuan berfikir
sambil berbicara agar mendapatkan kejernihan dalam berfikir.
Kontradiktif.
Perbedaan lainnya terletak pada cara berfikir dalam
menyelesaikan masalah. Bagi lelaki, berfikir adalah diam
namun bagi perempuan berfikir sambil berbicara agar
mendapatkan kejernihan dalam berfikir. Kontradiktif. Tabiat
pokok para lelaki adalah perhatian pada sesuatu yang di luar.
Sehingga ketika ia mengalami kesukaran maka ia akan menarik
diri dan mulai berfikir secara diam. Ia berusaha memecahkan
permasalahan yang dialami. Demikianlah cara lelaki bersikap
agar telepas dari kesukaran dan kelelahan.
Lelaki yang merasa lelah akan berusaha mencari kelegaan
dengan berusaha mendapatkan tempat yang cukup tenang, jauh
dari kebisingan. Dan secara umum berusaha menghindarkan
diri untuk tenggelam pada perdebatan dalam bentuk apapun. Ia
tidak ingin berbicara, baik pada permasalahan yang dihadapi
maupun tema lainnya. Yang diinginkan lelaki pada waktu itu
hanyalah ketenangan. Dan rumah adalah tempat mendapatkan
ketenangan itu.
Di antara naluri khas lelaki adalah apabila ia konsentrasi untuk
membahagiakan perempuan maka ketika itu semua pikiran dan
usahanya terpusat untuk mewujudkannya. Bila ia merasa
perempuan telah merasa bahagia, maka lelaki akan berusaha
mengubah pikirannya pada hal baru secara tidak sengaja. Ia
mulai konsentrasi pada hal lain, seperti permasalahan dalam
pekerjaan. Sehingga otaknya sibuk, pemikirannya tertumpah
pada hal tersebut, sehingga masalah baru itu menjadi sangat
menyibukkan dia. Seakan-akan ia telah mengabaikan istrinya
yang ia cintai.
Seni Berkomunikasi
Sudah umum dikatakan bahwa perempuan adalah makhluk
cerewet yang banyak omong. Sebenarnya pendapat itu tidak
salah dan juga tidak sepenuhnya benar. Kaum lelaki juga
sangat suka berbicara. Kaum lelaki banyak berbicara saat di
luar rumah, saat ia berjuang dan berkorban untuk mendapatkan
kebutuhannya. Saat di rumah ia menjadi pendiam karena
baginya rumah bukan tempat untuk berjuang. Rumah adalah
tempat untuk beristirahat, mengistirahatkan otaknya. Berbeda
dengan kaum perempuan yang merasa rumah adalah tempat
yang tepat untuk berbicara terutama dengan suaminya. Lagi-
lagi, keadaan yang sangat jauh berbeda. Lalu bagaimana
mengatasinya?
Tentu saja harus melihat kondisi dan situasi. Lelaki yang
sedang memiliki masalah di kantor akan terus membawa
masalahnya itu sampai ke rumah. Ketika suami sedang dalam
kondisi letih dan mempunyai masalah, maka perempuan harus
memahami hal itu bahwa suami sedang lelah, butuh istirahat,
dan ketenangan. Kewajiban perempuan adalah memenuhi hal
tersebut. Jika tidak, akibatnya akan buruk. Jika suami telah
menemukan pemecahan masalahnya, letihnya telah habis,
maka ia akan terlihat gembira. Pikirannya menjadi baik kembali.
Mukanya menampakkan senyuman yang lebar. Siap diajak
untuk berkomunikasi.
Dalam dunia lelaki, ada dua sebab mengapa ia mau berbicara
tentang masalahnya:
1. Ingin berembug dan mencari jalan keluar
2. Ingin membebaskan diri dari tanggung jawab dan kesalah
tersebut.
Dalam benak lelaki, saat perempuan mengatakan keluhannya,
dua hal tersebutlah yang menjadi alasannya. Jikalah istrinya
mengeluh, maka secara otomatis, lelaki yang menganggap
dirinya sebagai kepala rumah tangga yang bertanggung jawab
penuh kepada istrinya akan memberikan jalan keluarnya. Namun
lelaki tidak mengetahui bahwa istrinya membutuhkan
perbincangan kasih sayang bukan membutuhkan nasehat-
nasehat dan jalan keluar. Baik, jika ternyata lelaki itu mampu
mengerti akan kebutuhan bercakap-cakap ini dalam diri istrinya
sehingga konflik tidak ada.
Di sinilah harus ada trik-trik dalam menyampaikan keluhan
permasalahan.
Hal lain yang menjadi permasalahan adalah jika lelaki
menangkap pesan bahwa keluhan yang disampaikan istrinya
adalah salah satu tindakan pembebasan diri si istri dari
tanggung jawab. Dengan kata lain, bahwa lelaki merasa bahwa
istrinya telah menganggapnya lalai. Ketika inilah lelaki akan
mengeluarkan senjatanya untuk membela diri. Di sinilah harus
ada trik-trik dalam menyampaikan keluhan permasalahan.
Di lain sisi, kaum perempuan menyukai memberikan
pertolongan dan bantuan kepada sesama. Keadaan berbeda
pada kaum lelaki. Perbedaan memang selalu ada selayaknya
tulang rusuk yang bengkok bagi kaum lelaki, selalu
berseberangan sifatnya. Tujuan memberikan bantuan bagi kaum
perempuan adalah untuk membuat dia merasa dicintai.
Sementara dalam dunia kaum lelaki, memberikan bantuan
sukarela dianggap sesuatu yang tak dapat diterima. Kadang
ditafsirkan sebagai penghinaan atas sebuah ketidakmampuan.
Karena itulah, seorang istri yang baik akan membiarkan
suaminya berkerja dan percaya penuh padanya. Biarkanlah ia,
turutilah, dan jangan mencampur aduk. Jangan berusaha
memperbaiki kecuali apabila ia tidak bekerja dan berhenti dari
pekerjaannya.
Secara umum, bila perempuan ingin memberikan bantuan
kepada suaminya atau memberikan nasehat kepadanya. Murni
keinginannya dengan tujuan untuk kebaikan si suami, sebagai
wujud rasa cinta tanpa diminta suami. Sikap ini akan terasa
menyakitkan bagi suami. Bagi suami, tindakan ini sebagai sikap
dari rasa ketidakpercayaan istri padanya. Ada baiknya
dilakukan dengan sikap yang tidak menggurui atau dengan cara
tidak langsung.
(Sumber:as-sakinah)
(Image:google)
[ Read More ]

Posted by PONDOK TNUR - - 0 komentar

Keluarga dan karib kerabat dekat bisa menjadi masalah hakiki
tatkala mereka ikut campur dalam urusan rumah tangga yang
bersifat pribadi.
Hendaklah mereka itu menyadari bahwa putera-puteri mereka
telah memiliki kehidupan baru yang khusus dengan segala
kemanisan dan kepahitannya, dengan segala problematika dan
rahasia-rahasianya. Maka janganlah mereka ikut campur dalam
urusan rumah tangga anak-anak mereka, kecuali jika mereka
diminta ikut campur.
Campur tangan dalam kehidupan rumah tangga putera-puteri
mereka ini akan membuat suami merasa tidak memiliki
kebebasan atau merasa orang lain yang mengatur urusan rumah
tangganya.

# PERTEMPURAN IBU MERTUA DENGAN ISTRI#
Kepada ibu mertua agar memahami bahwa menantunya itu baru
menjadi seorang istri yang sedang mencoba kehidupan suami
istri. Dan hal itu menuntut kita untuk bersikap lemah lembut dan
santun serta memaklumi kesalahan-kesalahan yang terjadi, dan
memandangnya sebagai anak sendiri untuk menguatkan benih-
benih cinta dalam hatinya.
Dan hendaklah ibu mertua membiarkan menantunya mengatur
urusan rumah tangga mereka seperti yang diinginkannya. Ada
kalanya ia gagal dan mengulangi sekali lagi. Dan hendaklah ia
menyadari bahwa urusan rumah tangga menantunya adalah
urusan pribadi mereka.
Bukan merupakan hak ibu mertua untuk mengetahui segala
urusan dari yang besar sampai yang kecil dalam rumah tangga
kecil yang baru ini. Janganlah ia bertanya tentang segala
sesuatu atau marah karena tidak mengetahui sesuatu urusan
misalnya. Walaupun ada baiknya menumbuhkan kesan dihati
ibu mertua bahwa ia adalah ibu disamping ibu mertua, dan istri
melibatkannya sebagian urusan rumah tangga yang tidak
merusak suasana bila ia mengetahuinya. Dan itu akan
menguatkan hubungan cinta.

# CAMPUR TANGAN SAUDARA PEREMPUAN (KAKAK IPAR)
DALAM PERSETERUAN DENGAN ISTRI#

Ini merupakan pengaruh yang luar biasa mempengaruhi
kehidupan suami istri. Saudara perempuan suami ada kalanya
menuduh si istri telah menguasai saudara laki-laki mereka. Atau
menuduh si istri telah memanfaatkan harta suami untuk
kepentingan dirinya dan keluarganya.
Boleh jadi sebab yang mendorong hal itu adalah kecemburuan
dari saudara-saudara perempuan dari pihak suami.
Solusi penyelesaian masalah ini:
Hendaklah si istri tetap mencintai dan menyayangi mereka,
bermu'alah dengan baik terhadap mereka, memberi mereka
hadiah, membuat mereka merasa rindu dengannya,
menganggap mereka seperti saudara sendiri, melupakan
kesalahan-kesalahan mereka , dan apabila mereka menikah
niscaya perilaku-perilaku mereka itu akan berubah dengan
sendirinya. Dan apabila mereka sudah berumah tangga,
perhatikanlah kebutuhan mereka dan kunjungilah mereka. Dan
bantulah suami mu dalam hal.
(Sumber:as-sakinah)
(Image:google)
[ Read More ]

Posted by PONDOK TNUR - - 0 komentar


Di Detikcom tertulis artikel " Duh, hampir 50 juta pasangan di seluruh dunia tidak subur "

Kalimat tersebut membuatku agak pesimis jangan-jangan saya termasuk angka itu?...

Mungkin selain taqdir yang menentukan, beberapa alasannya karena faktor kesehatan, makanan, gaya hidup, polusi air/udara kemungkinan sangat berpengaruh dalam menghambatnya pasangan hamil secara mudah...

walaupun masih banyak pasangan yang sukses hamil cepat karena kesehatannya yang baik, tapi cukup banyak juga pasangan yang harus konsisten melakukan usaha yang cukup banyak untuk segera hamil, apalagi biaya program hamil saat ini sangat besar juga, tp demi kehadiran buah hati yang sangat dinanti pasti banyak pasangan yang rela bekerja keras untuk mencari dana itu, walaupun ada juga pasangan yang masih tidak berhasil menjalani program hamilnya karena faktor tertentu...
 
Seperti yang saya alami sedih dan terkadang agak putusasa, tapi saya harus sadar bahwa banyak kebahagiaan yang telah hadirdan masih menemani hari-hariku...Dan tentu saya masih bisa mjadi seorang ibu dari seorang anak walaupun bukan anak kandung...saya harus ikhlas menjalaninya dgn penuh bahagia dan tentu tetap berusaha lebih baik lagi serta selalu meminta pada_NYA melalui doa yang paling khusu, smg Allah memberikan buah hati kepada kami pada saat yang tepat dan semuanya akan indah pada waktunya.

Bersyukurlah bagi pasangan yang sangat dimudahkan oleh Allah swt karena dengan taqdirnya buah hati sang bayi mungil hadir dlm rumah yang aakn selalu menghiasi hari-hari penuh ceria dan harapan baru...Rawat dan jagalah buah hati dgn penuh kasih sayang...:)

sumber:http://health.detik.com/read/2012/12/22/135547/2125231/763/duh-hampir-50-juta-pasangan-di-seluruh-dunia-tidak-subur?991104topnews
[ Read More ]